Aceh bukan daerah tanpa nilai. Rakyat Aceh hidup dengan adat, agama, dan kehormatan yang dijaga turun-temurun. Menyamakan rakyat Aceh dengan pencuri hanya karena dugaan kehilangan material proyek adalah penghinaan terbuka terhadap harga diri masyarakat. Jika benar ada baut yang hilang, pertanyaannya sederhana: di mana pengawasan proyek, di mana tanggung jawab pelaksana, dan siapa yang lalai?
Sudah terlalu sering rakyat dijadikan kambing hitam atas kegagalan struktural. Proyek miliaran rupiah dibangun tanpa pengamanan memadai, tanpa pengawasan ketat, lalu ketika terjadi masalah, masyarakat kecil yang dituding. Ini pola lama yang terus diulang: rakyat disalahkan, sementara aktor utama bersembunyi di balik jabatan dan kontrak kerja.
Kami menolak keras segala bentuk stigma yang merendahkan martabat orang Aceh. Harga diri warga Aceh tidak pernah dan tidak akan pernah bisa ditukar dengan baut jembatan, besi, atau material proyek apa pun. Tuduhan tanpa dasar bukan hanya mencederai perasaan rakyat, tetapi juga memperlihatkan kegagalan moral pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab.
Jika ada unsur pidana, tempuh jalur hukum secara terbuka dan profesional. Jangan membangun opini murahan yang menggeneralisasi dan memprovokasi. Aceh tidak kekurangan masalah, tetapi Aceh juga tidak kekurangan kehormatan. Dan kehormatan itu tidak untuk diinjak-injak demi menutupi kelalaian sendiri.
#detakAceh #detakNasional
.jpeg)
