![]() |
| Dok Pribadi : Tamarudin, Pemerhati Sosial |
Detak Opini (DetakNasional.com),- Diantara hal paling banyak dibincangkan di tahun 2025 adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam kaidah ilmu, setiap aksi ada reaksi. Ada resonansi pada setiap getaran benda oleh benda lain, kata hukum fisika. Pro-Kontra adalah seni berkehidupan.
Dalam tinjauan histori dunia, memberi makan bergizi kepada anak sekolah bukanlah hal baru. Ada negara-negara yang bahkan sudah memulainya dari awal abad 20. Sebut saja Amerika misalnya. Hingga kini ada hampir 10 Negara menerapkan program ini. Negara seperti Filandia, Brasil, Swedia, India, Malaysia, Jepang dan beberpa negara lainnya.
Secara global, program ini adalah hasil konvensi dunia dalam aspek pembangunan berkelanjutan (SDGS). Termasuk didalamnya menuntaskan kemiskinan, kelaparan dan gizi buruk. Dunia ingin menjamin hak anak atas kecukupan pangan. Dari sisi tujuan semua tentu sepakat ini program mulia dan terpuji.
Implementasi negara-negara disebutkan diatas dalam program ini satu sama lain berbeda. Disebabkan oleh kondisi masing-masing berbeda. Amerika dalam program ini lebih menfokuskan pada upaya masif penerima manfaat program ini. Jepang berangkat dari angka obesitas anak usia sekolah makin tinggi, sehingga penekanannya lebih kepada edukasi dan budaya pola makan lebih baik. Lain lagi dengan negara Brasil, disamping untuk penuhan gizi anak sekolah juga ada upaya memperhatikan kerjasama dengan para petani lokal dalam penyiapan bahan baku. Sehingga mensyaratkan 30% bahan makan gratis dari lokal.
Sementara Indonesia, kesannya memang agak terlalu cepat dan dipaksakan. Tapi sebetulnya pemerintah juga sudah mendahuluinya dengan melakukan kajian yang melibatkan lembaga terkait. Tapi menurut penulis masih belum komprehensif dan tuntas. Misalnya saja dari sisi skala prioritas penerima manfaat, sepertinya belum terlalu mempertimbangkan untuk mendahulukan daerah titik-titik rawan pakan. Sehingga bisa dilakukan efisiensi anggaran.
PRO-KONTRA DI LAPANGAN
Awal program MBG diluncurkan, dihiasi oleh masifnya berita keracunan. Kalau sekarang sepertinya sudah lebih terkendali dari sisi higienitas, kesehata dan keamanan makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak penerima manfaat.
Namun masih ada riak-riak kecil terkait volume dan menu MBG yang diterima.
Sebenarnya Badan Gizi Nasional fokus pada standar gizi MBG. Tidak pada menu MBG. Pihak pengolala tekhnis MBG dalam hal mengatur menu seharusnya terus konsisten pada standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Dan pihak pengelola sudah paham akan hal ini, karena sudah ikut dalam pelatihan-pelatihan program ini.
Kekritisan masyarakat atas plus minus program ini patut diapresiasi, karena berarti ikut terlibat dalam program pembangunan. Dan itu merupakan sebuah ciri negara akan maju. Pihak berkuasa atau pihak pengelola, dalam hal ini tidak perlu sensi dengan melakukan pembungkaman. Kekritisan masyarakat adalah energi untuk perbaikan.
Begitu juga masyarakat, kritik harus bertanggung jawab dan berdasarkan data akurat. Jangan terlalu mengedepankan emosi, sehingga menjadi isu melebar dan liar, apalagi sampai masuk dalam rana hukum.
Penulis sering bertanya ke anak-anak sekolah dan wali murid penerima program MBG. "Senang menerima program MBG dari pemerintah?". "Senang...". Jawab mereka.
Untuk itu mari kita dukung pemerintah melanjutkan program MBG tahun-tahun berikutnya.

