Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

UEA Hentikan Misi Militer di Yaman Setelah Serangan Koalisi Saudi

Kamis, 01 Januari 2026 | Januari 01, 2026 WIB Last Updated 2026-01-01T03:34:25Z


 

Detak Internasional (DetakNasional.com),-Uni Emirat Arab (UEA) memutuskan menarik seluruh personel militernya dari Yaman setelah serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi menghantam pengiriman barang di salah satu pelabuhan utama di wilayah selatan negara tersebut.

Dalam pernyataan resmi pada Selasa, 30 Desember 2025, Kementerian Pertahanan UEA menegaskan bahwa langkah penarikan itu dilakukan demi melindungi keselamatan pasukan di lapangan. Unit kontra-terorisme yang ditarik merupakan satu-satunya kekuatan UEA yang masih bertugas sejak mundurnya sebagian besar pasukan pada 2019.

“Mempertimbangkan perkembangan terbaru dan risiko terhadap keselamatan serta efektivitas misi, kami memutuskan menarik sementara personel kontra-terorisme yang tersisa dari Yaman secara sukarela, dengan prioritas perlindungan pasukan,” demikian pernyataan pemerintah UEA yang dikutip Al-Jazeera, Rabu 31 Desember 2025.

Serangan udara koalisi sebelumnya menyasar Pelabuhan Mukalla setelah menuduh pengiriman dari UEA membawa persenjataan dan kendaraan tempur untuk Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis di Yaman selatan. UEA membantah keras tuduhan tersebut dan menyebut muatan itu hanya berupa kendaraan bagi pasukannya sendiri.

STC pada mulanya bersekutu dengan koalisi melawan kelompok Houthi, namun belakangan menuntut pembentukan negara sendiri di Yaman selatan. Sejak 2022, mereka menguasai sebagian wilayah strategis, termasuk Hadramout dan Al-Mahra yang berbatasan dengan Arab Saudi.

Merespons ketegangan yang meningkat, Ketua Dewan Kepemimpinan Kepresidenan Yaman, Rashad al-Alimi, menetapkan status darurat selama 90 hari, membatalkan kerja sama keamanan dengan UEA, dan menuntut seluruh pasukan Emirat meninggalkan Yaman dalam 24 jam. Kebijakan ini didukung Riyadh.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri UEA mengecam tudingan bahwa negaranya ikut campur dalam konflik domestik Yaman, menegaskan kembali bahwa pihaknya tidak memasok senjata kepada kelompok separatis.

Perang saudara di Yaman telah berlangsung sejak 2014, ketika Houthi merebut Sanaa dan memaksa pemerintah yang didukung Saudi berpindah ke selatan. Hingga kini, kelompok tersebut masih menguasai sebagian besar wilayah utara, sementara di selatan pengaruh STC terus menguat dalam kerangka pembagian kekuasaan yang rapuh.

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update