Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Bulan Rajab, Bulan Mulia dan Awal Kewajiban Sholat dalam Sejarah Islam

Selasa, 06 Januari 2026 | Januari 06, 2026 WIB Last Updated 2026-01-06T07:42:36Z
Ustad Abdul Mutholib (UAM)/personal arsive

DetakNasional.com,-Umat Islam akan kembali memperingati salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah kenabian, yakni Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang terjadi pada bulan Rajab. Peristiwa agung ini menegaskan kedudukan Rajab sebagai bulan yang dimuliakan Allah SWT dan memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi bagi kaum Muslimin.

Dalam Islam, Rajab termasuk satu dari empat bulan haram yang disucikan, bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Pada bulan-bulan ini, umat Islam diperintahkan untuk menjaga kehormatan, menahan diri dari perbuatan zalim, serta memperbanyak amal kebaikan. Rasulullah SAW menyebut Rajab sebagai bulan mulia yang terletak di antara Jumada dan Sya’ban, sebagaimana disebutkan dalam hadits muttafaq ‘alaih.

Kemuliaan Rajab juga ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT melarang terjadinya peperangan pada bulan-bulan haram karena kedudukannya yang suci. Larangan tersebut tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 217, yang menegaskan bahwa pelanggaran terhadap kehormatan bulan haram merupakan dosa besar di sisi Allah SWT.

Rajab semakin istimewa karena pada bulan inilah umat Islam pertama kali menerima perintah sholat secara langsung dari Allah SWT. Sholat yang menjadi tiang agama dan fondasi utama kehidupan spiritual seorang Muslim, disyariatkan pada peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebelum perintah tersebut, Rasulullah SAW dan para sahabat telah mengenal ibadah sholat, namun belum dalam bentuk lima waktu sebagaimana yang diwajibkan saat ini.

Pada malam Mi’raj, Allah SWT mewajibkan sholat sebanyak 50 kali dalam sehari semalam. Namun, melalui rahmat dan kasih sayang-Nya, kewajiban tersebut diringankan menjadi lima waktu, dengan ganjaran pahala yang tetap setara dengan 50 sholat. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam hadits sahih dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’i.

Sejumlah riwayat sejarah menyebutkan bahwa peristiwa Isra dan Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab, sekitar lima tahun sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Meski demikian, terdapat pula pendapat ulama dari mazhab Hanafiyah yang menyatakan bahwa pensyariatan sholat terjadi pada malam Isra di bulan Ramadhan, sekitar satu setengah tahun sebelum hijrah. Perbedaan pendapat ini tidak mengurangi esensi ajaran, melainkan menunjukkan kekayaan khazanah keilmuan dalam Islam.

Dengan segala keutamaannya, bulan Rajab menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan keimanan, memperbanyak ibadah, serta mempersiapkan diri menyambut bulan-bulan penuh keberkahan berikutnya, hingga datangnya Ramadhan. Rajab bukan sekadar penanda waktu, melainkan pengingat akan kewajiban sholat sebagai sarana utama mendekatkan diri kepada Allah SWT.

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update