A. Pendahuluan
Salah satu golongan manusia yang mendapatkan kemuliaan istimewa di sisi Allah adalah mereka yang wafat dalam keadaan syahid, yaitu gugur dalam perjuangan membela agama Islam dengan penuh keikhlasan dan pengorbanan. Kedudukan ini bukan sekadar penghormatan biasa, melainkan anugerah agung yang dijanjikan dengan pahala surga serta derajat yang tinggi di sisi-Nya. Hal ini karena seorang syahid telah mengorbankan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, yakni jiwa dan raga, demi tegaknya kebenaran dan kemuliaan agama.
Atas dasar kemuliaan yang agung ini, syariat Islam menetapkan sejumlah hukum khusus yang berbeda dari perlakuan terhadap jenazah pada umumnya. Di antara keistimewaan tersebut adalah tidak diwajibkannya memandikan dan mengkafani secara sempurna sebagaimana jenazah lainnya. Bahkan, dalam beberapa ketentuan, seorang syahid dimakamkan dengan pakaian yang ia kenakan saat gugur, beserta luka dan darah yang masih melekat pada tubuhnya. Darah tersebut bukan dianggap sebagai sesuatu yang harus dibersihkan, melainkan menjadi saksi mulia atas perjuangan dan pengorbanannya di jalan Allah.
B. Kriteria Mati Syahid
Perlu dipahami bahwa predikat syahid tidak diberikan secara sembarangan. Syariat telah menetapkan batasan dan kriteria yang jelas dalam menggolongkan seseorang sebagai syahid. Tidak setiap orang yang meninggal dalam peperangan secara otomatis mendapatkan status tersebut. Niat, tujuan, serta cara gugurnya menjadi faktor penting dalam penentuan hukum ini. Dalam hal ini para ulama membuat definisi khusus terhadap syahid yang tidak dimandikan dan dishalatkan (syahid dunia akhirat), diantaranya Imam Muhyiddin an-Nawawi dalam Kitab Minhaj al-Thalibin :
هو من مات فى قتال الكفار بسببه
Artinya: “Ia adalah orang yang wafat dalam pertempuran melawan orang-orang kafir, yang kematiannya terjadi sebagai akibat langsung dari peperangan tersebut.”
Dengan demikian, orang yang wafat setelah peperangan akibat luka yang dideritanya tidak termasuk dalam kategori syahid yang mendapatkan perlakuan khusus seperti tidak dimandikan dan tidak dishalatkan. Demikian pula, mereka yang gugur dalam peperangan melawan pemberontak (ahl al-bughah), atau yang meninggal bukan karena sebab langsung dari pertempuran, tidak dikategorikan sebagai syahid dalam pengertian tersebut.
Adapun terkait orang yang terbunuh dalam konteks pemberontakan (ahl al-bughah), para ulama sepakat bahwa ia tidak termasuk dalam kategori mati syahid. Hal ini disebabkan karena peperangan tersebut terjadi di antara sesama kaum Muslimin, sehingga tidak memenuhi kriteria jihad yang melahirkan predikat syahid dalam pengertian khusus. Kematian dalam kondisi tersebut disamakan dengan pembunuhan yang terjadi di luar medan peperangan, dari sisi tidak diberlakukannya hukum-hukum khusus bagi syahid. Ini menunjukkan ketelitian syariat dalam membedakan antara berbagai bentuk kematian, serta kehati-hatian dalam menetapkan kemuliaan gelar syahid agar tetap sesuai dengan prinsip dan tujuan yang telah digariskan.
Para ulama merumuskan bahwa predikat syahid tidak diberikan secara sembarangan, melainkan harus memenuhi tiga syarat berikut ini :
Ia wafat di tengah medan peperangan, bukan di luar situasi pertempuran.
Kematian yang dialaminya merupakan akibat langsung dari peperangan tersebut.
Peperangan yang dijalaninya adalah peperangan yang dibenarkan oleh syariat, yakni melawan orang-orang kafir.
Macam-macam Syahid
Para ulama membagikan syahid kepada tiga macam :
Syahid Akhirat Saja
Yaitu orang yang mendapatkan pahala syahid di akhirat, namun dalam hukum dunia diperlakukan seperti jenazah biasa, diantaranya :
Orang yang meninggal karena penyakit perut, seperti penyakit busung (penumpukan cairan) atau diare berat.
Orang yang tenggelam meskipun dalam kondisi maksiat (misalnya karena minum khamar), tetap dihitung syahid. Namun tidak termasuk syahid jika sengaja berlayar saat kondisi berbahaya (angin kencang).
Orang yang mati sebab penyakit tha'un (wabah), meskipun tidak pada waktu mewabahnya penyakit tha'un atau dengan sebab selain tha'un namun pada waktu mewabahnya tha'un atau setelahnya dengan syarat bersabar dan mengharap pahala dari Allah SWT .
Orang yang meninggal karena cinta (‘isyq) dengan syarat: Menjaga diri dari hal-hal haram, bahkan dari pandangan. Tidak melanggar syariat meskipun ada kesempatan. Menyembunyikan perasaannya, bahkan dari orang yang dicintai.
Wanita yang meninggal saat melahirkan, meskipun dari zina, selama ia tidak menjadi sebab gugurnya janin.
Orang yang terbunuh secara zalim, meskipun cara pembunuhannya tidak sesuai dengan hukuman yang seharusnya.
Orang yang meninggal dalam perantauan, meskipun sebabnya karena maksiat seperti budak yang kabur dari sayidnya atau istri nusyuz (durhaka).
Orang yang meninggal saat menuntut ilmu, meskipun wafat di tempat tidur.
Orang yang meninggal karena kebakaran
Orang yang meninggal tertimpa bangunan
Orang yang meninggal mendadak atau meninggal dinegri musuh
Orang yang meninggal karena menjalani hukuman hadd (baik melebihi batas atau tidak, dan baik ia bertaubat atau tidak)
Catatan Penting :
Jika kematian terjadi karena sebab maksiat, maka tidak mendapatkan pahala syahid, seperti wanita yang sengaja menggugurkan kandungan lalu meninggal dan seperti rang yang sengaja berlayar dalam kondisi berbahaya lalu tenggelam. Jika bukan karena maksiat, maka tetap mendapatkan pahala syahid, meskipun ada maksiat yang menyertai, seperti orang yang menangkap ular sedangkan ia tidak mahir dalam menangkapnya, atau melakukan hal bahaya seperti akrobat/aksi nekat padahal ia tidak ahli lalu ia meninggal maka tidak dikategori mati syahid.
Syahid Dunia Saja
Adapun yang disebut sebagai syahid dunia semata adalah orang yang gugur dalam peperangan melawan orang-orang kafir, namun status tersebut disebabkan oleh hal-hal tertentu. Misalnya, ia berperang karena tergiur pada harta rampasan perang, atau terbunuh saat melarikan diri dengan cara yang tidak dibenarkan oleh syariat, atau berperang karena riya (pamer) dan tujuan-tujuan serupa.
3. Syahid Dunia dan Akhirat
Adapun syahid Dunia dan akhirat adalah orang yang syahid mealwan orang kafir untuk menegakkan kalimat Allah agar menjadi lebih tinggi. Dan yang dikendaki ulama' ahli fiqih (pembahasan syahid) yaitu salah satu dari dua keterangan yang akhir (syahid dunia saja dan syahid dunia akhirat) dan hukum mereka adalah hanya wajib dikuburkan saja.
Referensi:
1. Jalaludin Al-Mahalli, Kanzu al-Raghibin, Juz. 1, Hal. 395-396, Cet. Dar. al-Fikri )
ولا يغسل الشهيد ولا يصلى عليه ( أي لا يجوز ذلك، وقيل يجوز غسله إن لم يكن عليه دم الشهادة، وقيل تجوز الصلاة عليه وإن لم يجز غسله وتترك للاشتغال بالحرب. روى البخاري عن جابر «أن النبي - صلى الله عليه وسلم - أمر في قتلى أحد بدفنهم بدمائهم ولم يغسلهم ولم يصل عليهم، وفي لفظ له: ولم يغسلوا ولم يصل. (وهو) أي الشهيد الذي لا يغسل ولا يصلى عليه (من مات في قتال الكفار بسببه) كأن قتله أحدهم أو أصابه سلاح مسلم خطأ أو عاد إليه سلاحه أو تردى في حملته في وهدة أو سقط عن فرسه أو رمحته دابة فمات أو وجد قتيلا عند انكشاف الحرب ولم يعلم سبب موته وإن لم يكن عليه أثر دم لأن الظاهر أن موته بسبب القتال. (فإن مات بعد انقضائه) وفيه حياة مستقرة بجراحة في القتال يقطع بموته منها (أو) مات (في قتال البغاة فغير شهيد في الأظهر) ومقابله يلحق الأول بالميت في القتال والثاني بالميت في قتال الكفار، ولو انقضى القتال وحركة المجروح حركة مذبوح فشهيد بلا خلاف، أو وهو متوقع البقاء فليس بشهيد بلا خلاف. (وكذا) لو مات (في القتال لا بسببه) كأن مات بمرض أو فجأة فغير شهيد (على المذهب) وقيل إنه شهيد في وجه لموته في قتال الكفار، أما الشهيد العاري عن الضابط المذكور كالغريق والمبطون والمطعون والميت عشقا والميتة طلقا والمقتول في غير القتال ظلما فيغسل ويصلى عليه
Kamaluddin Muhammad bin Musa, al-Najmu al-Wahaj, Juz. 2, Hal. 70, Cet. Dar al-Minhaj
وهو من مات في قتال الكفار بسببه، فإن مات بعد انقضائه , أو في قتال البغاة ... فغير شهيد في الأظهر ,
____________________________
وأما المقتول من أهل العدل في قتال البغاة ... فلأنه قتيل مسلم فأشبه المقتول في غير القتال. واحتجوا له بأن أسماء غسلت ابنها عبد الله بن الزبير ولم ينكر عليها أحد .والقول الثاني: نعم كالمقتول في معركة الكفار. واحتجوا له بأن عليا لم يغسل من قتل معه، وأوصي عمار أن لا يغسل، وقد قيل: إن عليا صلى عليه .وإن كان المقتول من أهل البغي ... فليس بشهيد قطعا.
3. Khatib Syarbaini, Mughni al-Muhtaj, Juz. 2, Hal. 34, Cet Dar al-Fikri )
أو (مات عادل )في قتال البغاة (له ) فغير شهيد في الأظهر( ؛ لأنه قتيل مسلم، فأشبه المقتول في غير القتال، وقد غسلت أسماء بنت أبي بكر - رضي الله تعالى عنهما - ابنها عبد الله بن الزبير - رضي الله تعالى عنهما - ولم ينكر عليها أحد. نعم لو استعان البغاة بكفار فقتل كافر مسلما فهو شهيد كما قاله القفال في فتاويه، والثاني وصححه السبكي أنه شهيد؛ لأنه كالمقتول في معركة الكفار؛ ولأن عليا رضي الله تعالى عنه لم يغسل من قتل معه .أما إذا كان المقتول من أهل البغي فليس بشهيد جزما،
Abu Bakar Usman bin Muhammad Syatha, Hasyiah Ianatuttalibin, Juz. 2, Hal. 155, Cet. Dar al-Fikri )
واعلم (أنه ذكر قيدين للشهيد، وهما: كون الموت حال المقاتلة، وكونه بسبب القتال، وبقي قيد ثالث، وهو: أن يكون القتال حلله العلماء .وخرج بالقيد الأول من مات بعد المقاتلة، فإن فيه تفصيلا سيذكره في قوله : ولا من مات بعد انقضائه إلخ. وبالقيد الثاني من مات لا بسبب القتال - كأن مات في حال المقاتلة بمرض أو فجأة - أي بغتة .وبالقيد الثالث: من مات في قتال محرم، كقتال المسلم ذميا، فلا يسمى شهيدا.

