BANGKINANG - Jumlah hotspot di Riau memang dilaporkan turun dari 256 menjadi 100 titik pada 26 Agustus 2026. Pemerintah dan aparat menyebutnya sebagai perkembangan positif. Namun bagi masyarakat yang setiap tahun menghirup asap, angka-angka itu tidak cukup menjadi alasan untuk bertepuk tangan.
Presiden Mahasiswa BEM STIE Bangkinang menilai keberhasilan penanganan karhutla tidak bisa hanya diukur dari berkurangnya jumlah hotspot. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa kebakaran terus berulang setiap tahun dan mengapa Riau selalu berada dalam situasi yang sama ketika musim kemarau tiba.
"Setiap tahun narasinya sama. Hotspot naik, api membesar, asap menyelimuti wilayah, lalu semua sibuk memadamkan. Setelah hujan turun, persoalan dianggap selesai. Tahun berikutnya terulang lagi. Sampai kapan?"
Karhutla bukan semata-mata bencana alam. Banyak kebakaran terjadi di kawasan yang sama, dengan pola yang hampir tidak pernah berubah. Karena itu, persoalan ini harus dilihat sebagai kegagalan pencegahan, bukan sekadar tantangan pemadaman.
Data menunjukkan luas karhutla di Riau sepanjang 2026 telah mencapai lebih dari 16 ribu hektare. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan ini jauh dari kata selesai.
"Yang dibutuhkan masyarakat bukan konferensi pers tentang penurunan hotspot. Yang dibutuhkan adalah jaminan bahwa anak-anak tidak menghirup asap, sekolah tidak terganggu, dan masyarakat tidak lagi menjadi korban dari persoalan yang terus berulang."
BEM STIE Bangkinang juga menyoroti bahwa negara sering kali terlihat hadir saat api sudah membesar, tetapi lemah dalam aspek pengawasan dan pencegahan. Penanganan karhutla tidak boleh berhenti pada pembagian masker, water bombing, atau patroli sesaat ketika kondisi sudah darurat.
"Kalau setiap tahun kebakaran tetap terjadi, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya cuaca, tetapi juga tata kelola, pengawasan, dan keberanian menindak pihak-pihak yang bertanggung jawab."
Mahasiswa menilai karhutla adalah persoalan lingkungan sekaligus persoalan keadilan. Masyarakat menanggung asapnya, petugas mempertaruhkan keselamatannya, tetapi akar persoalannya sering kali tidak pernah benar-benar diselesaikan.
"Riau tidak membutuhkan seremoni keberhasilan setiap kali hotspot turun. Riau membutuhkan solusi yang membuat karhutla tidak lagi menjadi agenda tahunan. Sebab keberhasilan yang sesungguhnya bukan ketika api berhasil dipadamkan, tetapi ketika api itu tidak pernah sempat muncul."

