Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

In Memorium Tabrani Rab; Sartre Malayu Yang Melaungkan Riau Merdeka

Rabu, 07 Januari 2026 | Januari 07, 2026 WIB Last Updated 2026-01-07T10:30:24Z

Personal arsive : Dr. Elviriadi, seorang kolumnis, penulis lepas dan cendikiawan Riau

DetakNasional.com,-Entah mengapa, sewaktu membolak balikkan buku, saya terjumpa gambar lama saya bersama Prof.Dr. Tabrani Rab.

Gambar yang terpotret tahun 2001 sewaktu launching buku kami bertiga, Drh.H.Chaidir, Edi Saputra Rab dan saya dimana mendiang Tabrani Rab sebagai pembedah dan HMI Komisariat Faperika panitianya.

Gambar yang jadikan cover berita media online itu saya kirim  ke bang Fauzi Kadir, dan langsung di kirim lagi ke Dr.Diana putri Tablrani Rab.

Rupanya, hanya berselang beberapa hari, tepatnya 14 Agustus 2022, hati saya tersayat mendengar kabar duka, beliau sudah berpulang.

Perkenalan saya dengan Bang Tabrani (panggilan aktivis padanya) terbilang cukup lama. Belajar filsafat dan politik fertikal dari lecutan sejarah juang beliau, Tabrani berpijak dari filsafat eksistensialisme, Satre dan Friedric Nietsche. 

Dalam artikel, opini dan Tempias (kolom khusus hari Ahad di Riau Pos), Pemikiran Sartre (Jean Paul Sartre) sangat kentara. “Besaaaarlah awak Elv…dalam ketelangan, jangan besar dalam jubah kekuasaan.” Demikian dia mengutip ungkapan Sartre dan sering memesankan itu kepada saya.

"Manusia besar harus terbebaskan dari norma konvensional. Runtuhkan, Runtuhkan segala tatanan sosial yang membelenggumu dan menindas rakyat.  Manusia telah membunuh Tuhan. Maka jadilah seorang "ubermansche".

Bagi seorang sebesar Tabrani, hidup yang bermakna bila bereksistensi, bila berjuang dengan menampilkan siapa diri, dengan berfikir, cogito ergo sum (aku berfikir karena itu aku ada).

Karena itu, setelah memapankan ekonominya, dengan mendirikan rumah sakit dan universitas, Tabrani menampilkan dirinya dalam ketelanjangan, dalam keseorangan, menantang badai, bak kata Prof.Riswanda Imawan Dosen Senior UGM, Eagle Fly Alone, Elang terbang selalu sendirian.

Ditemani Nora sang sekretaris, Dan Munir semacam ajudan multi fungsi, Tabrani menampilkan efesiensi Tim, efesiensi biaya, menggugat sana sini melalui “Riau Cultural Institute” yang pengurusnya mungkin hanya dia sendiri.

“Tamu tamu berduyun, dari Wiranto sampai hermanto. Dari politisi oportunis sampai sakai yang innocent. Tabrani menangkap peluang aduan aduan masyarakat menjadi ruang dialektikanya sendiri. Menyurati secepat kilat, menelpon, dan melakukan langkah langkah progresif intelektual pembelaan.

Puncak dari kiprah Sang Sartre Melayu itu, terkulminasi dalam laungan “Riau Merdeka” yang membahana hingga goncang Jakarta. Didampingi koleganya Kapitra Ampera, Fauzi Kadir, Al Azhar dan Hj.Azlaini Agus, ” rentak eksistensialisme” Tabrani makin berdenting.

Tabrani jelas ingin menjadi "ubermansche, merontokkan struktur struktur sosial indonesia dan Riau yang mudah patah. Menyerah dan kalah. Tabrani bak Avatar menunggang angin, api,  gelombang air gambut dan tanah demi mencambuk  pemerintah pusat yang mengeksploitasi Minyak dan Kekayaan alam Riau. Dia berkelebat cepat dengan safari putih dokternya. Berjumpa pejabat, men-seminari berbagai forum dengan ingatan yang kuat, menghafal angka angka kerugian Riau selama bergabung dengan jakarta. Dan membuat buku buku tebal tentang ambrukisasi ekonomi Riau akibat kolonialisme ekologis Pemerintah Pusat.

Semua itu, memperteguh tapak berdirinya diatas 2 lantai; filsafat barat yang materialis historis yang membawa dinamika hidup. Hidup untuk berjuang. Jangan mundur setapak jua walau tiang kapalmu berderak patah. Biar air laut tumpah menindih haluan geladak pecah, kayuh sisa perahumu agar bahumu kokoh memimpin peradaban. 
Seperti sebait puisi M.Natsir buat sahabat Buya Hamka,
"Walau bersilang keris di leher, namun yang benar kau kata jua

Narasi empatik tampak pula pada pembelaan Tabrani pada kaum marginal, sakai, Hans Kalipke, puak melayu, dan relung dialektis yang terus diayunkannya. Diruang BEM UIN Suska Riau tempat Tabrani, Edianus Herman Halim, Kapitra sering singgah, terlukis Bendera Riau Merdeka. Di bawahnya ada sebaris kalimat yang menggugah, juga melegenda; “Jika Riau, Merdeka, Laah!

Mungkin itu warisan monumental yang hendak ditinggalkannya. Selamat Jalan Bang Tabrani. Biarlah kenangan manis peristiwa masa lalu tenggelam bersama tidurnya yang abadi. Menjadi catatan yang tak pernah pergi...๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒด

Elviriadi adalah teman Almarhum Tabrani Rab ketika masih mahasiswa

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update